Pelatihan Blog Untuk Peserta Sekolah Kepenulisan

Sabtu, 1 Juni 2013 dilaksanakan pelatihan internet berkait dengan kepenulisan. Pelatihan ini dilaksanakan di laboratorium Komputer STAIN Purwokerto mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang.

Pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada para peserta mengenai keterampilan literasi teknologi komputer khususnya internet. Karya-karya yang telah mereka hasilkan bisa dipublikasikan di internet untuk selamnjutnya aar bisa dibaca oleh khalayak luas. Selain juga untuk menunjukkan eksistensi mereka di dunia kepenulisan.

 

LOMBA CIPTA ESAI TINGKAT NASIONAL 2013: Tema “MENGINDAHKAN PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA”

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto kembali menggelar LOMBA CIPTA ESAI TINGKAT MAHASISWA SE-INDONESIA untuk tahun 2012-2013 ini. Rekrutmen naskah esai dimulai sejak Sabtu 22 Desember 2012, dan batas akhir pengumpulan naskah esai Sabtu 23 Maret 2013.

Read more…

LOMBA CIPTA CERPEN NASIONAL 2013: Tema “Percintaan dengan latar KERAGAMAN INDONESIA”

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto kembali menggelar LOMBA CIPTA CERPEN TINGKAT MAHASISWA SE-INDONESIA untuk tahun 2012-2013 ini. Rekrutmen naskah cerpen dimulai sejak Sabtu 22 Desember 2012, dan batas akhir pengumpulan naskah cerpen Sabtu 23 Maret 2013.

Read more…

tamba@jurnas.com(Jurnal Nasional), ahda05@yahoo.com(Pikiran Rakyat), donyph@jurnas.com(Jurnal Bogor), elkasabili@yahoo.co.id (Majalah Sabili), ktminggu@tempo.co.id(Koran Tempo), budaya_ripos@yahoo.com (Riau Pos), lampostminggu@yahoo.com(Lampung Post), triwikromo@yahoo.com(Suara Merdeka),kompas@kompas.com(Kompas)

Suwung

Cerpen Abdul Wachid B.S.

“Mengapa harus nonton Kamasutra?” aku jengah dengan ajakan istriku. Rasanya ini hanya sindiran belaka. Malam demi malam lewat. Tanpa kasmaran. Dingin memahat.

“Aaah, kau pasti suka. Aku perlu hiburan, Mas. Selingan! Daripada dapur, penganggur, dan kutak-kutek di rumah begini. Ayolah!” rengeknya manja. “Kau nanti pasti akan menggelepar usai nonton, Mas. Seperti ikan Mas Koki membutuhkan air. Dan aku akan menjadi airmu. Renangi aku, ya?” Dia tersenyum. Nakal.

Aku membalas senyumnya. Hampa.

*****

Malam ke entah dari pulang-balikku sebab kerja di luar kota, aku datang dengan perasaan kelelakian yang bertalu-talu di dada. Kuketuk pintu. Sepi. Tak ada sahutan, selain kunci pintu yang diputar. Lalu, senyap. Ia kembali tidur menghadap tembok.

Aku tahu pasti apa yang telah terjadi. Ia telah berkata lewat nafasnya. Penantian ini suatu pengorbanan terbesar dari hidupnya. Hidup perempuan. Maka perempuanlah makhluk yang paling merasa setia menjaga cinta. Di rumah. Segalanya tak ada yang menjamah. Suci. Imut-imut seperti anggur yang baru dipetik.

Orang luaran rumah, sepertiku, tak punya cinta. Cintanya, kata dia, diobral di mana-mana. Seperti sopir truk gandengan, yang jalan malam, yang kerap kusalip di jalanan. Kutengok. Ah! Memang di tengah duduk antara sopir dan kernetnya, ada bidadari. “Kamu, paling juga begitu!” ketus istriku. Ya, mungkin saja, mahasiswi-mahasiswi itu sedemikian bodohnya, cuma tertarik dengan seorang dosen. Pegawai negeri sipil. Yang gajinya cuma bisa untuk makan separuh bulan. Selebihnya? Jadi pengamen di seminar-seminar. Atau, kalau aku, jadi “tukang obat” di kelas-kelas yang ditinggalkan dosen senior.

Apalagi, ketambahan dengan penelitian Iip Wijayanto yang sensasional itu. Puiih! 95% mahasiswi di Yogya telah ambrol keprawanannya. Istriku kian meradang dengan baca hasil jajak itu. “Nah, benar kan, kata Bu Inung. Tetangga sebelah itu, suaminya jatuh cinta pada mahasiswinya! Dia itu sudah tua, Mas. Sedang kamu? Masih muda. Thuk-mis pisan. Lengkap toh?”

Baru aku tahu dari istriku, kalau suami Bu Inung begituan. Kapan hari Bu Rohali juga bilang, suaminya telpon-telponan sama Bu Eva. Waaah. Betapa hebatnya pengaruh berita-berita selebritis di TV itu. Semua orang telah merasa jadi selebritis. Dan, aku, kian meringis. Kelelakian ini berdentum keras. Tapi peluru yang muntah hanya selongsong lepas.

Aku tak habis pikir. Mengapa kasihsayang tanpa bara cinta di malam begini masih ada nyala cahaya. Mungkin saja istriku penggemar berat Erich Fromm. Dalam The Art of Loving, Fromm memang menghibur diri bagi orang-orang yang setia sepertinya. Katanya, kualitas cinta itu tidak ditentukan oleh kualitas seksual. Sebaliknya, kualitas seks ditentukan oleh kualitas cinta. Seperti makanan yang enak, kalau perasaan lagi nggak ngeh, ya hambar juga.

Bila petasan telah berletusan dari mulut istriku yang mungil itu, ia akan berangkat tidur. Mendengkur. Mungkin kali ini juga begitu? Tapi, tidak! Di sudut ranjang ada setumpuk baju, koper, dan perhiasan. Dia menangis. Aku tak mengerti. Ambyar sudah keinginan yang berloncatan sejak di jalanan tadi. Daripada bertengkar, aku ke dapur. Di meja, banyak sekali buah-buahan. Rasa lapar berganti mengarah ke lapar perut. Tak ada nasi. Tapi aku makan buah-buahan itu. Sendiri.

*****

“Mas. Mas! Eva bilang, Endang punya masalah besar lho?” ia bersandar di pundakku. Suatu sore yang membetah diri di beranda. Angin tak kedengaran.

“Ada apa?” buyar lamunanku pada baris sajak Goenawan Mohamad itu. Ia bilang, Bu Endang lagi ramai dengan suaminya. Tapi Endang kalau cerita memang seru. Katanya, pacarnya itu hebat. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Endang bagai pacar ketinggalan perahu. Tidak seperti lelakinya, dirundung ragu.

Aku tertegun. Di beranda angin kedengaran lagi. Tapi, di dadaku jadi gemuruh. Beranda ini memang sepi. Tak cuma di beranda, di rumah ini selalu sepi. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun aku dan dia menjadi suami istri. Istriku sarjana ekonomi, yang entah sebab nasib, sulit mencari kerja. Kami kerap berdebat soal ini. Sebab setianya padaku, ia harus cepat lulus, jadinya nilainya jelek. Dan aku tanpa disalahkan pun, kerap merasa salah sendiri. Aku memang sering merasa bersalah. Bahkan sejak kecil.

Di keluarga sebab anak pertama, aku dituntut serba bisa. Mulai dari memasak, sampai terima tamu. Waktu menginjak remaja, sebab aku pembawaannya banyak omong, banyak teman wanitaku suka. Tapi oleh Bulik dan Paklikku tempat indekos, diadu-adu ke orangtua di dusun, bahwa aku suka pacaran. Untungnya saat kuliah ketemu dengan istriku. Perempuan ini memang luar biasa. Santun. Tahu tatakrama. Bijak. Dan penuh nasihat. Sampai-sampai aku tak tahu, bagaimana cara menasihati seorang istri, tatkala kawan dosen ada yang minta pendapat cara menaklukkan istri. Nasib baikku, aku juga bisa lulus. “Orang yang bermula dari kata” ini, dan betah di rumah sebab pengangguran terselubung, mendadak berubah menjadi manusia-pergi.

Aku senang dengan hiburan baru ini, kerja. Setidaknya dengan begini aku merasa lebih memiliki arti dalam hidup. Istriku yang dulu susah-payah bikin roti dan dititipkan dari toko ke super-market, kini nyaman di rumah, nonton TV, dan merangkai kembang. Rumah bersih. Dan lampunya terang. Ia yang dulu sangat introvert dengan tetangga. Kini agak nyambung dengan omongan Eva, Titi, Jeany, Endang. Untung pula aku hidup di perkampungan yang agak rapat.

“Kok nglamun sih! Mas!” aku tergagap. Terus-terus, Endang bagaimana ya, tanyaku. Ia melanjutkan, katanya suaminya tahu. Suaminya yang tentara itu harus berhadapan dengan tentara juga? Pacar Bu Endang kan tentara? Seru banget ya, jadinya. Bisa pistol-pistolan!

Aku kelu dengan kata-kata istriku, pistol-pistolan itu.

Tatkala Berita Malam menyiarkan perang Irak-Sekutu Amerika yang penuh ledakan itu, justru aku tiarap. Tak ada ledakan di sini. Selain bersipunggung. Dan dengkur. Sedang aku bangga dan bersyukur, memiliki istri yang meledak-ledak, sekaligus tidak menuntut. Bijak. Tapi, aku, lelaki.

*****

Buah-buahan yang tadi malam kumakan, ternyata menyisakan sakit perut yang berkepanjangan bagiku. Sehingga tengah malam aku bangun, menuju kamar kecil.

Tatkala pintu kamar kecil kubuka, istriku ternyata ada di dalamnya. Terperanjat. Ia sedang menenteng gelas dengan tangan kanannya, berisi seperti teh. Tapi bukan teh kukira. Dan di tangan kirinya ada yang membuat jantungku berdentum. Mau lepas.

Tapi? Aku lelaki. Mendadak aku kian berdebar merindu Kamasutra. Kembali ingin bercinta di bangunan seperti kuil tua, bersama reinkarnasi kekasihku. Bidadari sepiku.*******

Riwayat

Abdul Wachid B.S., lahir di dusun Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, 7 Oktober 1966. Ibunya (Siti Herawati binti Muhammad Usmuni), dan ayahnya (Muhammad Abdul Basyir bin Mashuri Wiryosumarto) seorang pedagang kecil, guru dan ketua yayasan di sebuah Madrasah kecil (Miftahul Amal).

Achid memulai pendidikan di dusunnya, dan melanjutkan studi di SMA Negeri Argomulyo Yogyakarta, saat inilah Achid mulai giat bersastra. Ia menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Di UGM pula ia menempuh Pascasarjana (S-2, Sastra Indonesia).

Sebagian sajak Achid terdokumentasi dalam buku : Mimbar Penyair Abad 21 (Balai Pustaka,1996); Angkatan Sastra 2000 (Grasindo, 2000); Hijau Kelon (Kompas, 2002); Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (Horison, 2003); Medan Waktu (Dewan Kesenian Jakarta, 2004).

Buku tunggal karya Achid : (1) Rumah Cahaya (edisi revisi Gama Media, cet.II, 2003), buku sajak yang menghimpun karya awalnya. (2) Sastra Melawan Slogan (FKBA, 2000), bunga rampai esainya yang diberi kata penutup oleh Dr. Faruk. (3) Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (Gama Media, 2002), diangkat dari karya ilmiah S-1, dikatapengantari oleh Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo. (4) Buku pilihan puisi cinta Ijinkan Aku Mencintaimu (Penerbit Buku Laela, cet.II-2004), dikatapengantari oleh peneliti sastra dari Jepang, Urara Numazawa. (5) Buku puisi Tunjammu Kekasih (Bentang, 2003). (6) Beribu Rindu Kekasihku (Amorbooks, 2004), buku pilihan puisi cinta, dikatapengantari oleh Dr. Katrin Bandel (peneliti sastra Indonesia berkebangsaan Jerman).
Tahun 2004 buku puisinya Rumah Cahaya dipilih oleh Departemen Pendidikan Nasional sebagai bacaan-wajib bagi Sekolah Lanjutan Atas, karenanya dimasukkan ke perpustakaan SMA/MA Negeri seluruh Indonesia.

LOMBA MENULIS CERPEN LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD 2010

Berhadiah Total Rp 85 Juta + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD. Peserta Siswa SLTP (Kategori A), Siswa SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)

Syarat-syarat Lomba:

1. Lomba ini terbuka untuk pelajar tingkat SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)  dari seluruh Indonesia maupun yang studi/bekerja di luar negeri. Kecuali keluarga besar PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Panitia/Dewan Juri LMCR 2010

2. Lomba dibuka 21 April 2010 dan ditutup 15 September 2010 (Stempel Pos)

– Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, derita dan kekecewaan)

– Judul bebas tetapi harus mengacu tema Butir 3

– Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul

– Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing  boleh digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema

3.      Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasi

untuk informasi selengkapnya KLIK DISINI

LOMBA MENULIS CERPEN KRAKATAU AWARD 2010

Dewan Kesenian Lampung (DKL) kembali menggelar Krakatau Award 2010. Untuk tahun ini berupa lomba penulisan cerpen tingkat nasional. Penghargaan akan diberikan kepada empat cerpen terbaik masing-masing juara I hingga IV, serta enam nominasi non-ranking.
Tema “Lampung: Lokal-Global”, yaitu cerpen harus bersandar kepada nilai-nilai adat, seni budaya atau dunia wisata di Lampung. Bagaimana peran lokalitas dalam berhadapan dengan globalisasi yang tak bisa dihindari.

Naskah lomba penulisan cerpen tingkat nasional tersebut dikirim ke Panitia Krakatau Award 2010, Sekretariat Dewan Kesenian Lampung Jalan Gedung Sumpah Pemuda Kompleks PKOR Wayhalim, Bandar Lampung selambat-lambatnya 30 Juni 2010 (cap pos). “Para pemenang akan diumumkan minggu ketiga Juli 2010″.
Informasi selengkapnya dapat dilihat DISINI.